Pada perhelatan akbar ritual adat,
masyarakat Lio mengenal Gawi. Gawi dalam bahasa Indonesia dapat disebut
juga dengan kata, 'TANDAK. Secara harfia kata tandak bermuara pada kata
bertandak yang berarti Berkunjung, mengunjungi, menyatukan hati, langkah
dan pikiran. Makna inilah yang menjadi dasar untuk menyebut GAWI
sebagai TANDAK dari daerah Ende Lio. Sama halnya dengan tandak tadi,
dalam tarian gawi pun kita yang terlibat dalam ritual tersebut
berkewajiban saling bergandengan tangan, menyatukan hati, hentakan kaki
serta mempuyai pikiran yang sama disaat mengikuti tarian tersebut dan
tidak boleh melepaskan tangan sampai upacara tarian gawi tersebut
selesai. Selain itu, kita hanya dapat melepaskan tangan kita pada saat
kita hendak beristirahat.
Tarian Gawi adalah satu - satunya tarian
khas masyarakat Lio yang tertua dan dipimpin oleh seorang penyair yang
ditunjuk para sesepuh adat. Dalam bahasa adat Lio penyair ini dapat
disebut 'ATA SODHA'. Uniknya, untuk menjadi seorang penyair, seseorang
harus mendapatkan Ilham secara khusus karena penyair (Ata Sodha) tidak
boleh membaca teks atau catatan pada saat upacara gawi sedang
berlangsung. Ini berarti penyair tersebut harus benar - benar menguasai
alur - alur bahasa adat ketika di nyanyikan dalam sebuah aliran lagu
adat yang dikenal dengan 'SODHA'. Dalam Beberapa ritual adat Mbama,
tarian gawi ini kerap diisi dengan 'BHEA' oleh para sesepuh atau dalam
hal ini Mosalaki sebagai pemegang tampuk kuasa tertinggi didalam masing -
masing wilayah persekutuan Lio. BHEA, kalau diterjemahkan dalam bahasa
Indonesia berarti; Sebuah ungkapan bahasa adat Lio yang bersifat seruan
untuk membangkitkan spirit sebagai tanda untuk menunjukan kebesaran,
keperkasaan dan kemenangan.
Secara harafia jika didefinisikan Arti
kata “Gawi” sebagai berikut; “Ga” Segan/sungkan. Sedangkan “Wi” artinya
menarik, dalam arti menyatukan diri. Tarian ini adalah simbol faktual
entitas yang merupakan daya pemersatu kalangan antara bangsawan dan kaum
jelata etnik Ende Lio di masa lampau. Filosofi tarian ini adalah
merayakan ritual kehidupan, baik merayakan kelahiran, masa panen atau
momen lainnya dalam kehidupan etnik Ende Lio. Salah satu tujuan dari
upacara adat ini adalah ungkapan syukur atas segala nikmat dari Yang
Kuasa. Dari semua tarian adat Lio, Gawi merupakan sebuah tarian yang
mempunyai banyak makna filosofis sebagai berikut:
1. Makna religius : Syair lagu gawi,
"Du’a Lulu Wula,Ngga’e Wena Tana". Mempunyai makna pemujaan melalui
kidung-kidung agung untuk menghormatan terhadap wujud Tuhan yang Maha
Tinggi.
2. Makna Persatuan : Koreografi gawi,
dalam bentuk lingkaran bulat (berpengangan tangan). Kebersamaan dalam
kehidupan masyarakat Lio sangat tergambar jelas melalui ritual gawi ini.
Sehingga setiap orang yang terlibat dalam ritual ini harus menyadari
betul inti kebersamaan "To'o Lei Po'o, Mbana Lei Meja".
3. Makna Kesetaraan jender : Peserta
gawi terdiri dari laki-laki dan perempuan. Jika Indonesia mengenal kata
emansipasi wanita, sesungguhnya orang Lio sudah mengenal kesetaraan
jender melalui ritual gawi maupun dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini
terbukti bahwa disetiap ritual-ritual adat orang Lio, kaum wanita
mendapat tempat dengan tugas tersendiri tanpa campur tangan kaum lekaki.
Misalnya: Mengatur perbekalan, mengatur hasil-hasil panen, dan juga
semua persoalan yang berkaitan dengan rumah adat, karena rumah adat
sebagai simbol kelahiran yang datang dari wanita.
4. Makna Tanggung jawab : Komponen
peserta gawi terdiri dari ulu eko, (Pemimpin), tuke ulu eko (Pembantu
pemimpin), naku ae (Pendukung/pelaksana). Disini dimaksudkan dalam
setiap perkampungan adat Lio, semua para pemimpin adat maupun masyarakat
jelata harus tahu tugas dan tanggung jawabnya terhadap "Du'a Gheta Lulu
Wula" serta aturan-aturan adat yang berlaku di dalam adat mereka
sendiri.
5. Makna Tatakrama : Sopan santun,
saling menghargai, saling menerima. Inilah yang disebut kepemimpinan
adat Lio kolektif kolegial. Artinya semua sesepuh maupun fai walu ana
kalo harus saling menghargai, tahu tatakrama, dan saling menerima antara
satu dengan yang lainnya.
Dalam beberapa pandangan GAWI/TANDAK
sebenarnya adalah ritual ibadat, dalam agama asli suku Lio. Di sini,
sodha menyanyikan sejarah suku dan ajaran - ajaran moral, yang
sebenarnya adalah 'Kitab Suci' lisan agama tersebut. Di beberapa tempat
dalam persekutuan Lio, pada saat ritual adat GAWI, ATA SODHA mengenakan
pakaian wanita (lawo-lambu). Hal ini sudah terjadi secara turun temurun
karena ada kecenderungan di berbagai agama asli, bahwa 'pendeta' agama
tersebut haruslah orang yang banci/ wadam. Ini menunjukan orang Lio
mempunyai ciri khas yang sama dengan Tolotang di Bugis, Aluk di Toraja,
atau beberapa agama asli di NTT. Filosofinya, orang yang banci adalah
orang yang paling murni dari masyarakat dan dapat mewakili kedua jenis
kelamin, sehingga paling layak mewakili masyarakat dalam berhubungan
dengan Dewa.
Dalam GAWI, lingkaran penari berbentuk
spiral, bukan lingkaran utuh, dan yang lebih unik lagi menyerupai ular.
Penari di bagian ekor bergerak paling lincah, selincah ekor ular. Ini
melambangkan kepercayaan setempat akan ular besar yang setia menjaga
mata air kampung sebagai sumber kehidupan. Jangan heran, kalau orang Lio
berperang, mata air adalah tempat yang paling dilindungi. Ular
diwilayah Lio, diyakini sebaga pelindung dewi padi (Ine Mbu). Bentuk
lingkaran spiral ini adalah kekhasan GAWI, karena di tempat lain tandak
selalu berbentuk lingkaran utuh. Dalam ritual Gawi, wanita selalu berada
di posisi luar, bukan di lingkaran dalam. Alasannya karena berdasarkan
tradisi orang Lio bahwa orang Lio selalu menganggap laki-laki sebagai
('Dari Nia Pase Lae') Generasi penerus yang harus berdiri di garda
terdepan sebagai pelindung dan pengayom kaum wanita. Ini penghormatan
kaum perempuan kepada kaum laki-laki sebagai sumber kekuatan dan
perlindungan, yang diyakini melindungi wanita.
Sebaliknya laki - laki menganggap wanita
sebagai sumber kehidupan dan mata air yang harus dilindungi layaknya
seekor ular raksasa yang melindungi seluruh rangkaian daratan Flores
yang dikenal dengan julukan 'Nusa Nipa'. Oleh karena itu tidaklah
mengherankan kalau kata 'Nusa Nipa' berasal dari bahasa Lio yang berarti
Pulau Ular. Salah satu bukti pengakuan orang Lio terhadap Nusa Nipa
adalah Pada jaman dulu, orang Lio tidak pernah membunuh ular, bahkan
terkadang jika bertemu Ular, orang Lio selalu membentangkan kain
selendang lalu memberinya makan berupa telur ayam sebagai wujud
penghormatan. Berikut ini sebuah petikan syair penghormatan orang Lio
terhadap ular:
Nusa Nipa - Pulau Ular:
Bu'u suru Lepembusu, - Dimenangkan di Lepembusu
Kanga ria tenda bewa, - Pelataran mega, bale agung
Ulu endo mbawe, - Hulu menjurus ke utara
eko tola ndale - Hilir menjurus ke Selatan
Bu'u suru Lepembusu, - Dimenangkan di Lepembusu
Kanga ria tenda bewa, - Pelataran mega, bale agung
Ulu endo mbawe, - Hulu menjurus ke utara
eko tola ndale - Hilir menjurus ke Selatan
Ulu gheta kowe jawa - Kepala menjurus ke Timur
Kami pa'a miu no'o ka - Kami memberimu sesajen
Eko ghale bajo bima - Ekor ke Bajo Bima
Kami rewu miu no'o ru'e - Bagimu kami serakan santapan
Kami pa'a miu no'o ka - Kami memberimu sesajen
Eko ghale bajo bima - Ekor ke Bajo Bima
Kami rewu miu no'o ru'e - Bagimu kami serakan santapan
Ulu leja geju, - Kepala ditempat terbitnya Matahari
Eko leja mele - Ekor di tempat terbenam
Ulu ata ma'e gete - Kepala jangan dipancung
Eko ata ma'e sete - Ekor jangan dipenggal
Eko leja mele - Ekor di tempat terbenam
Ulu ata ma'e gete - Kepala jangan dipancung
Eko ata ma'e sete - Ekor jangan dipenggal
Ata eo kolu mbou ulu - Kepada pengacau (Perampas)
Soke kolo kai, - Penggalkan kepalanya
Ata eo rai ramba eko - Kepada perampok
Gete lima kai - Potong tangannya
Soke kolo kai, - Penggalkan kepalanya
Ata eo rai ramba eko - Kepada perampok
Gete lima kai - Potong tangannya
Pusu kai tu leka tubu - Sajikan jantungnya di batu pemujaan
Lema kai Tu leka fi'i kanga - Lidahnya dikurbankan dipelataran
Ta'u leka nipa ria - Takut kepada ular
Ga leka bhara bani - Segan kepada Bhara buas
Nipa ria mbale lamu, - Ular besar menjelma lumut
Lamu mbale tana - Lumut menjelma tanah
Kita mera leka tana - Kita bermukim ditanah
Ina mera leka longgo - Berarti bemukin di punggung (ular)
Lema kai Tu leka fi'i kanga - Lidahnya dikurbankan dipelataran
Ta'u leka nipa ria - Takut kepada ular
Ga leka bhara bani - Segan kepada Bhara buas
Nipa ria mbale lamu, - Ular besar menjelma lumut
Lamu mbale tana - Lumut menjelma tanah
Kita mera leka tana - Kita bermukim ditanah
Ina mera leka longgo - Berarti bemukin di punggung (ular)
Dari semua rentetan ritual adat orang
Lio, Gawi/tandak adalah ritual puncak. Banyak agama asli menggunakan
ritual semacam gawi/tandak itu sebagai ibadat puncaknya. Contohnya
adalah JingiTiu di Sabu (padhoa), Marapu di Sumba, Aluk to Dolo di
Toraja (Ma'badong), bahkan, orang Yahudi ortodoks berdoa dengan cara
tersebut di tembok ratapan. Mungkin ini bisa berarti bahwa ritual
seperti itu sudah sangat tua sekali usianya, atau bukti bahwa manusia
memiliki kecenderungan yang sama dalam menghayati kosmos.
Selain itu Masing - masing suku di
Flores memiliki ciri musik dan tangga nada khas. Sebagai contoh, suku
Lio memiliki tangga nada berciri tritonus, yaitu berjarak empat nada
berjarak satu laras berurut, yang tidak ada duanya dengan di tempat
lain. Kalau dibunyikan, akan seperti nada fa-sol-la-si, bukan
do-re-mi-fa atau sol-la-si-do sebagaimana lazimnya tangga nada diatonik,
atau do-mi-fa-sol seperti pentatonik lazim. Sayangnya, irama asli
seperti ini hilang begitu saja oleh irama yang lebih populer, seperti
dangdut, reggae,dll, yang dibungkus dengan sekedar bahasa daerah sebagai
syair.
Mungkin, irama asli hanya bisa didengar
jika menikmati Gawi di tempat - tempat seperti Jopu, Moni, Tenda atau
Watuneso dalam cakupan luas (lise nggonde ria). Generasi muda perlu
dididik kembali untuk mengerti keaslian tersebut sebagai kekayaan
kultural, mungkin dengan memasukkan materi musik daerah sebagai mata
pelajaran sekolah, atau menggiatkan sanggar - sanggar musik daerah.
Bahkan lagu - lagu 'Gawi' yang kini populer lebih berciri slow-rock
ketimbang asli Lio. Ini juga terjadi di daerah - daerah lain.
Sepertinya, kita lebih suka menikmati musik asing dengan sekedar
membungkusnya lewat syair berbahasa daerah, tapi kehilangan jati-diri
musik pribumi. Komponis yang setia menjaga keaslian irama sepertinya
tidak ada. Sebagai generasi Flores, anda ditantang untuk menggunakan
kembali musik aslinya. Jika tidak, musik khas Flores tidak akan pernah
ada. Menurut pandangan seorang Max Weber, yang dikutip dari J. Kunst
(1942) mengakui bahwa orang Flores mempunyai ciri khas musik yang sangat
unik dari etnis mana pun di seluruh pelosok nusantara. Yang menjadi
pertanyaan sekarang; Mengapa orang Flores sendiri tidak bisa
mempertahankan nilai - nilai luhur yang sudah di wariskan ?